Paus Mesin di Bawah Es

Anika mengikuti bunyi tik-tik misterius sampai ke sebuah kota yang lupa cara mendengarkan. Petunjuk kecil apa yang akan kamu dengarkan dari dalam mesin yang tak bisa diperbaiki siapa pun?

23 pages · Ages 8-10 · ID

Paus Mesin di Bawah Es

Anika menunggangi paus mesin dari kuningan di bawah es kutub, menuju kota bercahaya di dasar laut.

Paus Mesin di Bawah Es

Untuk para tukang reparasi yang mendengarkan dulu sebelum meraih perkakas.

Isi Buku

Detak di Bawah Teluk Kota di Bawah Kaca Biru Mesin yang Melawan Laut Jantung yang Belajar Pasang Surut

Suara yang Bergigi

Anika menempelkan sarung tangannya ke lantai bengkel, sementara bunyi detak aneh naik dari es.

Anika hafal semua bunyi di bengkel Tante: desis kompor, denting kunci pas, angin yang mengusik daun jendela. Tapi bunyi yang ini datang dari lantai. Tik... gruuung... tik. Bukan retakan es laut yang liar. Bukan suara mesin yang dia kenal. Ada mesin yang memanggil dari bawah teluk.

Mata Jingga di Bawah Sana

Anika dan Tante mengintip lewat lubang es yang aman, melihat paus kuningan terjerat kabel di bawah.

Di lubang es yang sudah ditandai dan aman, Anika mengaitkan tali pengamannya ke pagar, lalu menurunkan sebuah lampu. Sembilan meter ke bawah, sebuah mata jingga terbuka. Pelat-pelat kuningan bergerak di air sebiru es. Sebuah mesin berbentuk paus naik pelan-pelan. Dan sebuah kabel survei yang putus melilit erat di ekornya.

Satu Potongan yang Hati-hati

Anika dan Tante dengan aman memotong kabel dari ekor kuningan Neri, sementara gelembung emas naik.

Tante memutar derek, sementara Anika mengarahkan alat pemotong bergagang panjang lewat pagar. Klik! Kabelnya mengendur. Neri bisa saja kabur. Tapi dia malah muncul dengan mahkota kuningannya, lalu menyemburkan air mancur gelembung emas yang berdenting di es seperti lonceng-lonceng mungil.

Undangan dari Kuningan

Tante memeriksa tudung napas dan lampu penanda Anika sebelum dia masuk ke pelana kering Neri.

Sebuah pintu terbuka di belakang kepala Neri. Di dalamnya ada satu pelana yang kering, tudung untuk bernapas, dan pegangan kuningan yang pas banget untuk sarung tangan Anika. Tante memandangi alat pengukur badai, lalu mata Neri yang tenang. “Satu jam,” katanya. “Lampu penanda harus menyala. Tante ikuti dari atas.”

Di Bawah Langit-langit Beku

Anika duduk di dalam Neri di bawah es laut biru, ada anjing laut berenang dan paus-paus bernyanyi dari jauh.

Neri meluncur ke bawah es. Dunia berubah jadi biru. Anjing laut berputar-putar di antara sinar matahari; gelembung menempel pipih di langit-langit beku; di kejauhan, paus kepala busur bernyanyi dengan nada yang terasa sampai ke tulang rusuk Anika. Detak mesin Neri berusaha menjawab, tapi setiap ketukan keempat berderit.

Pelagos dalam Gelap

Neri dan Anika menyelam turun menuju kota bawah laut yang redup, dengan turbin raksasa yang diam di tengahnya.

Dasar laut seakan menghilang di bawah mereka. Lalu tampaklah Pelagos, kota yang melayang di air. Kubah-kubah kaca disambung rusuk kuningan, kebun rumput laut bergoyang pelan, dan jalan-jalannya bercahaya hangat seperti madu. Tapi banyak jalan yang berkedip-kedip, lalu gelap. Di tengah kota ada turbin yang lebih besar daripada rumah. Diam saja. Tideheart, jantung kota itu, sudah berhenti.

Kota yang Menahan Napas

Anika dan Penjaga Sola meraba Tideheart yang berhenti, sementara lampu rumput laut meredup di Pelagos.

Penjaga Sola menyambut Anika di dermaga. Pompa-pompa menghemat air hangat. Lampu-lampu rumput laut mulai redup. "Roda giginya sudah dua kali kami bongkar dan buat ulang," kata Sola. "Tapi jantung ini selalu berdetak kencang setiap kali air pasang berganti arah." Anika menyentuh selubungnya. Tik-tik-SRET. Detak keempat yang sakit itu, sama persis dengan Neri.

Roda Gigi Terbesar Tidak Bersalah

Anika membandingkan roda-roda gigi yang bagus dan melihat semua bekas ausnya miring ke arah yang sama.

Para insinyur mendorong keluar roda gigi pengganti yang lebih tinggi daripada Anika. Gigi-giginya mulus sempurna. Roda-roda gigi tua di dalam juga masih bagus. Tapi semua bekas aus miring ke arah yang sama, seperti jantung itu sedang didorong oleh sesuatu yang lebih kuat daripada kuningan. "Siapa yang memberi tahu kapan dia harus berputar?" tanya Anika.

Dengarkan Dulu, Baru Pegang Kunci Inggris

Anika mendengarkan di kubah yang sunyi, sementara arus dan Tideheart saling menarik ke arah berlawanan.

Sola ingin semua pelat luar dilepas. Tapi Anika minta satu hal: hening. Pelagos pun mengecilkan pompa-pompanya. Dari balik kubah terdengar es berderit, arus berdesir, dan nyanyian paus kepala busur. Tideheart tersentak terlalu cepat, lalu tersendat ketika air bergerak ke arah sebaliknya. Ternyata dia sedang melawan air pasang.

Neri Ingat Irama Lama

Neri mengetuk kubah, paus-paus liar membalas, dan mural tua memperlihatkan tugas Neri sebagai penjaga.

Neri mengetuk kubah: tiga ketukan rata, jeda, lalu tiga ketukan lagi. Paus-paus liar membalasnya. Di sebuah mural tua, paus-paus mesin berenang mengelilingi Tideheart. Mereka merasakan tekanan air dengan sirip di rahang mereka, lalu berbagi iramanya. Jadi Neri bukan kendaraan. Neri adalah penjaga.

Sirip Pendengar yang Bengkok

Di dalam panel pipi Neri, satu sirip tekanan bengkok bergesek, sementara tiga lainnya bergerak lancar.

Anika membuka panel pipi Neri yang paling kecil. Tiga sirip tekanan bergerak lancar. Sirip keempat bengkok kena kabel survei dan macet di tengah. Sirip itu mengirim waktu yang salah ke Neri, dan Neri meneruskan irama itu ke Tideheart. Satu pendengar mungil membuat bingung sebuah kota besar.

Perbaikan Sekecil Sendok

Anika dengan hati-hati meluruskan dan menggosok sirip tekanan kecil milik Neri yang bengkok.

Anika tidak menyalakan tungku besar dan tidak mengganti jantung raksasa itu. Dia melepas sirip yang bengkok, meluruskannya pelan-pelan dengan jangka sorong, menggosok poros putarnya sampai licin, lalu memasangnya kembali. Neri mencobanya sekali. Tik, tik, tik, jeda. Tidak ada bunyi sret lagi.

Tiga Ketukan dan Satu Jeda

Neri berenang mengitari Tideheart yang mulai berputar, dan cahaya hangat menyebar ke seluruh kota bawah laut.

Neri berenang satu putaran mengelilingi Tideheart. Tiga ketukan. Jeda. Arus pun berbalik. Kali ini turbin besar itu menunggu dulu, lalu bergerak bersama air. Satu roda gigi menyambut roda gigi berikutnya. Cahaya keemasan merambat ke seluruh Pelagos, seperti matahari terbit di bawah kaca.

Taman yang Bangun Duluan

Daun kelp dan ikan-ikan perak kembali, saat tenaga yang lembut menerangi Pelagos lagi.

Air hangat mengalir sampai ke taman rumput laut. Daun-daunnya terangkat, lampu-lampu makin terang, dan ikan-ikan perak berenang pulang lewat lengkungan kaca. Seluruh Pelagos bersorak. Tapi Anika mendengarkan lebih dalam, melewati keriuhan itu. Jantung kota itu tidak menderu. Ia berputar pelan, nyaris tanpa suara, menghemat tenaganya dengan mengikuti irama laut.

Hadiah Berupa Pertanyaan

Anika menerima cangkir pendengar kuningan yang sederhana, sementara Neri menunggu di balik kaca.

Sola menawarkan kunci pas emas yang istimewa untuk Anika. Tapi Anika memilih cangkir pendengar yang sudah tua: mangkuk kuningan yang membuat getaran paling halus jadi lebih mudah terasa. "Alat yang dimulai dengan pertanyaan," katanya. Neri menyentuhkan gelembung-gelembung berdenting ke kubah kaca, tanda setuju.

Pulang ke Atas Lautan Biru

Di rumah, Anika mendengarkan pemanas rusak dengan cangkir kuningan sebelum memilih alat.

Neri mengantar Anika pulang sebelum badai sampai ke teluk. Bibi langsung memeluknya erat-erat, lalu mendengarkan seluruh cerita yang hampir tak masuk akal itu. Saat fajar, sebuah pemanas rusak datang untuk diperbaiki. Anika meletakkan kunci pasnya, mengangkat cangkir kuningan, dan bertanya, "Apa yang berubah sebelum kamu berhenti?"

Ayo uji rasa kagummu

Kata-kata baru

Dari mana kami belajar

Dongeng fantasi ini murni lahir dari khayalan. Tapi es kutub, paus kepala busur, suara di bawah air, dan rumput laut di dalamnya berpijak pada alam yang memang nyata.

Tamat

Sampai sekarang Neri masih berkeliling di Pelagos, di bawah es yang biru, menjaga tiga ketukan dan satu jeda bersama pasang surut. Dan Anika masih memperbaiki mesin. Tapi kini, alat pertama yang ia ambil adalah sebuah pertanyaan.

Browse more full books · Make your own