Momo dan Rumble di Bulan
Momo dan Rumble terbang ke Bulan dan melihat Bumi biru yang indah dari jauh.
Ages 4-5 - 2 minute read - gentle - ID
Reviewed for child-safety · gentle by design · How our stories are made
Published 2026-10-02T15:24:56.000502

Read-aloud note
Bacakan pelan, beri jeda pada gambar, lalu kecilkan suara di akhir cerita.
Story
Momo dan Rumble Melihat Bumi dari Bulan
Bulan muncul pelan di atas bukit rumput. Bundar sekali. Terang sekali. Momo menunjuk ke langit. “Kalau kita berdiri di sana, apa ya yang kita lihat?” Mata Rumble langsung membesar. “Ayo kita cari tahu!” Mereka masuk ke roket kecil perak, lalu memasang sabuk. Klik, klik!
Mesin roket berdengung pelan. Nguuung… lalu, wusss! Bukit menjadi kecil. Awan lewat di bawah mereka, lembut seperti bantal putih. Tidak lama kemudian, Bumi tampak seperti kelereng biru yang berkilau. Momo dan Rumble melambai dari jendela bundar. “Halo, angkasa!”
Di luar sana gelap sekali, sunyi sekali. Bintang-bintang berkelip di atas, di bawah, di kanan, di kiri. Rumble menghitung sampai tiga. Momo menghitung sampai sepuluh. Lalu bintangnya terlalu banyak. Mereka berdua tertawa. Di depan sana, Bulan makin besar, makin dekat.
Roket mendarat pelan di tanah Bulan. Puf! Debu perak terangkat lembut. Momo turun hati-hati. Rumble juga turun hati-hati. Boing, Momo melompat. Boooing, Rumble melompat lebih tinggi. Sepatu bulan mereka meninggalkan jejak-jejak rapi menuju bukit kecil yang bundar.
Di puncak bukit itu, mereka berhenti. Di langit hitam, Bumi bersinar—biru, putih, hijau, cantik sekali. Hutan, laut, awan, dan rumah mereka, semuanya ada di bola indah itu. Momo menggenggam tangan Rumble. Sebentar saja, mereka diam. Lalu Rumble berbisik, “Wah.”
Momo dan Rumble pulang melewati sungai bintang. Saat roket tiba lagi di bukit rumput, Bulan masih bersinar di atas sana. Sekarang Bulan tidak terasa terlalu jauh. Dua sahabat itu duduk berdampingan, mengingat Bumi biru dan pemandangan yang indah. “Selamat malam, Bulan,” kata mereka. “Terima kasih sudah menunjukkan pemandangannya.”
Scenes
Bulan Mengajak Pergi

Bulan naik pelan di atas bukit rumput, bundar dan terang. Momo menunjuk ke sana. “Kalau kita berdiri di sana, apa ya yang kita lihat?” Rumble membelalakkan mata. “Ayo kita cari tahu!” Mereka masuk ke roket kecil perak dan memasang sabuk. Klik, klik!
Halo, Angkasa

Mesin roket berdengung lembut. Tiba-tiba, wusss! Bukit di bawah menjadi mungil. Awan-awan lewat di bawah jendela seperti bantal putih. Jauh di belakang, Bumi berkilau seperti kelereng biru. Momo dan Rumble melambai-lambai. “Halo, angkasa!”
Bintang Tak Terhitung

Angkasa gelap sekali dan sunyi sekali. Bintang berkelip di atas, di bawah, dan di sekeliling mereka. Rumble menghitung, “Satu, dua, tiga.” Momo menghitung sampai sepuluh. Setelah itu, bintangnya terlalu banyak, dan mereka tertawa kecil. Di depan sana, Bulan tampak makin besar dan makin dekat.
Sepatu Bulan Memantul

Roket menyentuh tanah Bulan dengan lembut. Puf! Debu perak beterbangan sedikit. Momo turun duluan, pelan-pelan. Rumble mengikuti. Boing, Momo memantul. Boooing, Rumble memantul lebih jauh. Jejak sepatu bulan mereka berbaris rapi menuju bukit kecil bundar.
Bumi di Langit Hitam

Di atas bukit kecil, Momo dan Rumble berhenti. Di depan mereka ada Bumi, bersinar biru, putih, dan hijau. Di bola indah itu ada laut, hutan, awan, dan rumah mereka. Momo memegang tangan Rumble. Lama sebentar, mereka hanya memandang. Lalu Rumble berbisik, “Wah.”
Selamat Malam, Bulan

Momo dan Rumble terbang pulang di bawah sungai bintang. Roket mendarat kembali di bukit rumput, sementara Bulan masih bersinar. Sekarang Bulan tidak terasa terlalu jauh. Mereka duduk berdampingan, mengingat Bumi biru dan pemandangan dari sana. “Selamat malam, Bulan. Terima kasih sudah menunjukkan pemandangannya.”
Read-aloud note
Bacakan pelan, beri jeda pada gambar, lalu kecilkan suara di akhir cerita.