Pip, Naga Terkecil di Tengah Badai

Pip tidak bisa menyemburkan api, tapi cahaya hangatnya bisa menuntun semua orang pulang. Hal lembut apa yang bisa kamu lakukan supaya orang lain merasa aman?

23 pages · Ages 4-5 · ID

Pip, Naga Terkecil di Tengah Badai

Pip kecil bersinar hangat di tengah badai, sementara para naga dan penduduk desa mengikuti jalan yang aman.

Pip, Naga Terkecil di Tengah Badai

Untuk setiap cahaya kecil yang tetap menyala.

Isi Buku

Terlalu Kecil untuk Api Saat Lentera Padam Ikuti Cahaya Kecil Pas Terangnya

Semburan Kecil Pip

Pip membuat satu percikan emas yang kecil, sementara naga-naga muda yang lebih besar berlatih api yang berguna.

Semua naga kecil di Cloudcap belajar menyemburkan api. Ember bisa menghangatkan teko. Rowan bisa menyalakan kompor. Pip menarik napas dalam-dalam. Pffft! Satu percikan emas jatuh di hidung Pip. Roti remah pun tidak hangus.

Cahaya yang Tidak Dibutuhkan

Pip menyembunyikan ekornya yang bersinar di bawah sayap, sementara Ember duduk di dekatnya dengan ramah.

Waktu Pip bersin, ujung ekornya menyala. Waktu Pip cegukan, menyala lagi. “Cantik,” kata Ember dengan baik hati. Tapi Pip ingin berguna, bukan cantik. Pip menyembunyikan ekornya yang bersinar di bawah sayap.

Lonceng Merah Berbunyi

Para naga dan penduduk desa menyiapkan tali, penutup jendela, sup, dan batu penanda jalan sebelum badai.

DONG! Lonceng cuaca yang merah berbunyi. Badai besar akan datang. Paman Brann mengikat tali pengaman. Para orang dewasa menutup jendela. Ember menghangatkan sup. Pip membawa tiga batu biru kecil penanda jalan, satu per satu.

Tiga Anak Kambing di Pondok Batu

Tiga anak kambing menunggu dengan aman bersama penjaganya di dalam pondok batu yang kokoh.

Di seberang padang rumput, tiga anak kambing menunggu di pondok batu yang kuat bersama penjaganya. Mereka aman, tapi kalau ada badai mereka gemetar. “Setelah angin pertama lewat, kita semua pergi menengok mereka,” kata Paman Brann.

Wuuusssh, Kata Angin

Angin kencang memadamkan lentera jalan, sementara orang dewasa menutup semua api dengan aman.

Hujan menderu. Angin mengaum di atas atap. WUSSH! Lentera jalan yang pertama padam. WUSSH! Yang berikutnya juga. Api naga membesar tertiup angin, jadi para orang dewasa memadamkan semua api dengan aman.

Masih Ada yang Bersinar

Sinar emas dari ekor Pip tetap menyala di dekat tanah, sementara hujan dan angin berputar di sekitarnya.

Pip mengintip dari pintu. Badai mendorong cerobong dan pohon-pohon. Di dekat tanah, ekor Pip masih bersinar. Bulatan kecil berwarna madu. Angin bisa membelokkan hujan. Tapi angin tidak bisa meniup sinar itu.

Paman Brann Punya Rencana

Paman Brann menunjukkan tali pengaman dan batu-batu biru kepada Pip, sementara para keluarga menunggu bersama.

Paman Brann berlutut di samping Pip. "Jalan ke kandang kambing ada batu biru dan tali pengaman," katanya. "Paman jalan di depan. Semua keluarga pegang talinya. Bisakah sinarmu menolong kita melihat batu berikutnya?" Telinga Pip langsung berdiri tegak.

Tidak Terang Seperti Api

Sinar kecil Pip menerangi satu batu biru dan tali pengaman dengan jelas di tengah badai.

Sinar Pip tidak terang seperti api Ember. Tidak bisa memanaskan teko. Tidak bisa menerangi langit. Tapi sinar itu menunjukkan satu langkah yang jelas. Lalu satu lagi. Untuk jalan ke kandang kambing, satu langkah yang jelas sudah cukup.

Langkah, Sinar, Langkah

Pip dan Paman Brann memimpin para keluarga melewati batu-batu biru yang bersinar, sambil semua memegang tali.

Paman Brann berjalan di depan. Pip berjalan di dekat kaki depannya yang besar. Di belakang mereka, para keluarga memegang tali. Langkah, sinar, langkah. Setiap batu biru muncul di dalam bulatan emas Pip. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang melepas tali.

Genangannya Terlalu Lebar

Ember menemukan batu pijakan dan Pip menyinari tepinya, sementara orang dewasa menahan tali pengaman.

Hujan memenuhi cekungan di jalan. Paman Brann menyuruh semua berhenti. Ember meraba batu-batu pijakan yang agak tinggi dengan kakinya. Pip menyinari pinggirnya. Satu per satu, mereka menyeberang. Dua orang dewasa memegang tali erat-erat.

Nyanyian untuk Anak-Anak Kambing

Sinar hangat ekor Pip dan senandung Ember menenangkan tiga anak kambing di dalam kandang.

Di dalam kandang, anak-anak kambing berdempetan dengan penjaganya. Pip meringkuk di tengah. Ekor emasnya membuat bayangan lembut di dinding batu. Ember bersenandung. Tak lama, tiga ekor kecil berhenti gemetar.

Pulang Lewat Tali yang Sama

Sinar kecil Pip yang sama menuntun penduduk desa dan anak-anak kambing pulang menyusuri tali pengaman.

Ketika angin mulai reda, Paman Brann memeriksa jalan lagi. Semua pulang lewat tali yang sama. Para kambing ikut juga, hangat di antara penjaganya dan dua orang dewasa. Sinar Pip tidak pernah jadi lebih besar. Memang tidak perlu.

Sup, Handuk, dan Sorak-Sorai

Penduduk Cloudcap berbagi sup dan handuk sambil bersorak untuk semua anggota tim badai.

Di Cloudcap, Ember menghangatkan sup. Orang-orang dewasa membawa handuk kering. Semua bersorak untuk rencana Paman Brann, kaki Ember yang kuat, nyanyian tenang sang penjaga, dan sinar satu langkah milik Pip. Setiap bantuan punya tempat dalam cerita ini.

Penjaga Langkah Pertama

Pip dengan bangga menyalakan batu biru pertama, sementara teman-teman Cloudcap berkumpul di dekatnya.

Keesokan paginya, Desa Cloudcap menunjuk Pip. Pip jadi Penjaga Langkah Pertama! Kalau kabut, senja, atau rasa cemas menutupi jalan, Pip akan menyalakan batu biru yang pertama. Langkah pertama tidak butuh seluruh langit. Langkah pertama cuma butuh tempat yang aman untuk berpijak.

Pip Coba Menyembur Lagi

Pip dan Ember tertawa saat percikan kecil itu hinggap di hidung Ember waktu matahari terbenam.

Sore itu, Pip berlatih api lagi. Tarik napas dalam-dalam. Pfffft! Satu percikan emas hinggap di hidung Ember. Mereka berdua tertawa. Ekor Pip bersinar lebih terang. Bukan karena ekornya berubah, tapi karena Pip tidak menyembunyikannya lagi.

Cahaya untuk Satu Langkah

Pip menyalakan satu batu biru di tengah kabut tipis, dan teman-teman mengikuti menuju rumah-rumah hangat.

Badai masih sering datang ke Cloudcap. Kabut juga. Pagi musim dingin yang gelap juga. Pip tidak pernah menerangi seluruh gunung. Pip menerangi tempat satu kaki akan melangkah berikutnya. Dan setiap kali, cahaya itu pas terangnya.

Ayo cek rasa penasaranmu

Kata-kata baru

Dari mana cerita ini

Cerita naga yang manis ini datang dari khayalan. Urusan bersiap menghadapi badai tetap diserahkan kepada orang dewasa yang bisa dipercaya.

Tamat

Cloudcap sudah nyaman lagi, dan Pip siap di dekat batu biru yang pertama. Kalau jalan terasa gelap, ingat ya: kamu tidak perlu menerangi seluruh gunung untuk membantu satu langkah berikutnya.

Browse more full books · Make your own