Mata di Haluan, Lampu di Pelabuhan

Sore turun di atas laut.

Ages 3-4 - 2 minute read - gentle - ID

Reviewed for child-safety · gentle by design · How our stories are made

Published 2026-09-02T08:17:15.546338

Storybook cover for Mata di Haluan, Lampu di Pelabuhan

Read-aloud note

Bacakan pelan, beri jeda pada gambar, lalu kecilkan suara di akhir cerita.

Story

Sore turun di atas laut. Perahu kecil bermata dua meninggalkan teluk ikan. Mesin berdengung, “Dung-dung-dung.” Di depan terbentang selat yang panjang dan gelap. Namun Kapten tahu: di seberang sana, lampu pelabuhan menunggu.

Malam menutup air dengan warna biru tua. Pulau di kiri tampak hitam. Pulau di kanan juga hitam. Mata yang terlukis di haluan memandang lurus ke depan. Kapten menjaga arah, sementara perahu kecil terus melaju pelan.

Lalu—kelip! Jauh di depan ada satu titik kuning. Kelip lagi! Ada dua, lalu tiga. “Itu dia,” kata Kapten pelan. Bukan bintang. Bukan kunang-kunang. Itu lampu-lampu di mulut pelabuhan.

Lampu-lampu itu makin besar. Satu di kiri, satu di kanan, lalu banyak berjajar di dinding batu. Air yang hitam berubah menjadi garis-garis emas. Perahu kecil mengikuti cahaya, masuk ke tempat yang tenang.

Mesin pun berbisik, lalu diam. Tali diikat. Keranjang ikan diturunkan. Di bawah lampu yang hangat, mata di haluan tampak tersenyum. Selat yang gelap sudah tertinggal. Perahu kecil telah menemukan jalan pulang.

Scenes

Selat Mulai Gelap

Sore turun di atas laut. Perahu kecil bermata dua meninggalkan teluk ikan. Mesin berdengung, “Dung-dung-dung.” Di depan terbentang selat yang panjang dan gelap. Namun Kapten tahu:

Sore turun di atas laut. Perahu kecil bermata dua meninggalkan teluk ikan. Mesin berdengung, “Dung-dung-dung.” Di depan terbentang selat yang panjang dan gelap. Namun Kapten tahu: di seberang sana, lampu pelabuhan menunggu.

Di Tengah Gelap

Malam menutup air dengan warna biru tua. Pulau di kiri tampak hitam. Pulau di kanan juga hitam. Mata yang terlukis di haluan memandang lurus ke depan. Kapten menjaga arah, sementar

Malam menutup air dengan warna biru tua. Pulau di kiri tampak hitam. Pulau di kanan juga hitam. Mata yang terlukis di haluan memandang lurus ke depan. Kapten menjaga arah, sementara perahu kecil terus melaju pelan.

Kelip Kecil

Lalu—kelip! Jauh di depan ada satu titik kuning. Kelip lagi! Ada dua, lalu tiga. “Itu dia,” kata Kapten pelan. Bukan bintang. Bukan kunang-kunang. Itu lampu-lampu di mulut pelabuha

Lalu—kelip! Jauh di depan ada satu titik kuning. Kelip lagi! Ada dua, lalu tiga. “Itu dia,” kata Kapten pelan. Bukan bintang. Bukan kunang-kunang. Itu lampu-lampu di mulut pelabuhan.

Ikuti Cahaya

Lampu-lampu itu makin besar. Satu di kiri, satu di kanan, lalu banyak berjajar di dinding batu. Air yang hitam berubah menjadi garis-garis emas. Perahu kecil mengikuti cahaya, masu

Lampu-lampu itu makin besar. Satu di kiri, satu di kanan, lalu banyak berjajar di dinding batu. Air yang hitam berubah menjadi garis-garis emas. Perahu kecil mengikuti cahaya, masuk ke tempat yang tenang.

Sudah Sampai

Mesin pun berbisik, lalu diam. Tali diikat. Keranjang ikan diturunkan. Di bawah lampu yang hangat, mata di haluan tampak tersenyum. Selat yang gelap sudah tertinggal. Perahu kecil

Mesin pun berbisik, lalu diam. Tali diikat. Keranjang ikan diturunkan. Di bawah lampu yang hangat, mata di haluan tampak tersenyum. Selat yang gelap sudah tertinggal. Perahu kecil telah menemukan jalan pulang.

Read-aloud note

Bacakan pelan, beri jeda pada gambar, lalu kecilkan suara di akhir cerita.