Leo dan Ikan Paus Dinosaur
Sebuah kisah penuh keajaiban tentang tiga orang kawan yang naik ke atas belakang seekor makhluk yang baik hati dan belayar jauh hingga ke Antartika — lalu pulang selamat ke rumah.
Ages 3-4 - 3 minute read - gentle - MS
Published 2026-05-23T14:00:28.382612

Read-aloud note
Read slowly, soften your voice near the end, and leave a small pause before the final goodnight line.
Story
Leo dan Ikan Paus Dinosaur Biru Besar
Leo menendang bola itu sekuat-kuatnya. Terlalu kuat!
Bola itu melayang tinggi, tinggi — melampaui pokok-pokok yang begitu besar sampai daunnya menyentuh awan — lalu jatuh jauh ke dalam tasik dengan bunyi PLOOOP yang kuat.
"Aduh," kata Leo. "Aduh," kata Mia. "Aduh," kata Theo kecil, yang memang selalu cakap kemudian.
Ketiga-tiga mereka berlari ke tepi tasik dan memandang ke dalam air. Bola itu terapung di tengah-tengah. Tapi ada sesuatu lagi di sana. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang berbonggol. Sesuatu yang perlahan-lahan, perlahan-lahan berpusing ke arah mereka.
Ia mempunyai leher panjang seperti dinosaur dan belakang yang luas seperti ikan paus. Dan sebelah mata yang besar dan baik hati — kelip, kelip, kelip.
"Ikan ke tu?" bisik Mia. "Batu ke tu?" bisik Theo. "Rasanya," kata Leo perlahan-lahan, "itu ikan paus dinosaur."
Dan memang betul! Ikan paus dinosaur itu menghampiri mereka sambil membawa bola Leo di atas hidungnya dengan lembut. Ia meletakkan bola itu tepat di kaki Leo. Lalu ia memandang mereka — kelip, kelip, kelip — seolah-olah sedang menunggu.
Leo memandang Mia. Mia memandang Theo. Theo memandang ikan paus dinosaur.
Kemudian, dengan berhati-hati sekali, ketiga-tiga mereka memanjat naik ke atas belakangnya yang luas, hangat, dan berbonggol.
Dan mereka pun pergi.
Tasik itu terbuka menjadi sungai yang biru dan lebar. Sungai itu terbuka menjadi lautan yang berkilauan. Lama-kelamaan, udara menjadi sejuk dan berbunga-bunga cahaya. Kepingan ais yang besar terapung-apung di sekeliling mereka — biru, berkilat-kilat — dengan penguin-penguin gemuk duduk di atasnya, wadel wadel wadel.
Antartika! Antartika yang sebenar! Theo ketawa sampai tergolek ke tepi di atas belakang ikan paus dinosaur, dan ikan paus dinosaur itu mengeluarkan bunyi yang rendah dan gembira — seperti dengung dan dengkuran dan ketawa sekali gus.
Penguin-penguin tu melambai. Leo pun melambai balas.
Kemudian ikan paus dinosaur berpusing perlahan-lahan dan membawa mereka pulang — balik melalui lautan yang berkilauan, balik melalui sungai yang biru lebar, balik melalui pokok-pokok yang tinggi tinggi — lalu menolak mereka dengan lembut ke atas rumput hijau yang lembut di tepi padang bola.
Leo memungut bolanya. Masih basah sikit.
"Esok lagi?" kata Mia.
Kelip, kelip, kelip.
Scenes
Tendangan yang Terlalu Kuat

Leo menendang bola itu sekuat-kuatnya — terlalu kuat! Bola itu terbang melampaui pokok-pokok yang tinggi tinggi, melepasi padang, dan jatuh ke dalam tasik dengan bunyi PLOOOP yang besar. "Aduh," kata Leo. "Aduh," kata Mia. "Aduh," kata Theo kecil, yang memang selalu cakap kemudian.
Ada Apa di Dalam Tasik?

Ketiga-tiga mereka berlari ke tepi tasik dan mengintai ke dalam air. Bola itu terapung di tengah-tengah. Tapi ada sesuatu lagi di sana — sesuatu yang besar, berbonggol, dan perlahan-lahan berpusing ke arah mereka.
Ikan Paus Dinosaur!

Ia mempunyai leher panjang seperti dinosaur dan belakang yang luas seperti ikan paus, dengan sebelah mata yang besar dan baik hati — kelip, kelip, kelip. Ikan paus dinosaur itu menghampiri mereka dan meletakkan bola Leo tepat di kakinya, lalu memandang mereka seolah-olah sedang menunggu.
Jauh Hingga ke Antartika

Ketiga-tiga mereka memanjat naik ke atas belakangnya yang luas dan hangat, lalu bertolak — melalui sungai yang biru lebar, melalui lautan yang berkilauan, hingga ke Antartika yang penuh salji dan ais berkilat-kilat. Penguin-penguin gemuk wadel wadel wadel. Theo ketawa sampai tergolek, dan ikan paus dinosaur mendengum gembira.
Esok Lagi?

Ikan paus dinosaur membawa mereka pulang — balik melalui lautan, balik melalui sungai, balik melalui pokok-pokok yang tinggi tinggi — dan menolak mereka perlahan ke atas rumput hijau yang lembut. Leo memungut bolanya. Masih basah sikit. "Esok lagi?" kata Mia. Kelip, kelip, kelip.