Lampu-Lampu Pulang

Pak Joko mengayuh becak pelan-pelan.

Ages 3-4 - 1 minute read - gentle - ID

Reviewed for child-safety · gentle by design · How our stories are made

Published 2026-09-02T08:15:45.222151

Storybook cover for Lampu-Lampu Pulang

Read-aloud note

Bacakan pelan, beri jeda pada gambar, lalu kecilkan suara di akhir cerita.

Story

Pak Joko mengayuh becak pelan-pelan. Kriing… roda berputar di jalan yang mulai sepi. Di kursi depan, Sari memeluk kelinci kainnya. Sebuah lampu warung menyala. “Satu,” bisik Sari.

Becak lewat di bawah pohon asam. Daunnya berbisik, srrr… srrr… Lampu teras berkedip, lalu terang. “Dua,” kata Sari. Kelopak matanya turun sedikit.

Dari gerobak, tercium pisang hangat. Pak Joko terus mengayuh—pelan, pelan. Sebuah lampu bulat menyala di atas uap tipis. “Tiga,” gumam Sari. Kepalanya mulai miring.

Langit kini biru gelap. Bulan tipis muncul di atas genteng. Di tikungan, satu lampu jalan menyala seperti kunang-kunang besar. “Empat,” ujar Sari—pelan sekali. Pak Joko tersenyum. Rumah sudah dekat.

Di balik pagar melati, lampu rumah menyala paling hangat. “Lima,” bisik Sari. Becak berhenti. Pak Joko mengangkat Sari yang sudah tertidur, masih memeluk kelinci kainnya. Lima lampu menemani mereka pulang. Yang terakhir berkata tanpa suara: selamat malam.

Scenes

Dusk Mulai Turun

Pak Joko mengayuh becak pelan-pelan. Kriing… roda berputar di jalan yang mulai sepi. Di kursi depan, Sari memeluk kelinci kainnya. Sebuah lampu warung menyala. “Satu,” bisik Sari.

Pak Joko mengayuh becak pelan-pelan. Kriing… roda berputar di jalan yang mulai sepi. Di kursi depan, Sari memeluk kelinci kainnya. Sebuah lampu warung menyala. “Satu,” bisik Sari.

Di Bawah Pohon Asam

Becak lewat di bawah pohon asam. Daunnya berbisik, srrr… srrr… Lampu teras berkedip, lalu terang. “Dua,” kata Sari. Kelopak matanya turun sedikit.

Becak lewat di bawah pohon asam. Daunnya berbisik, srrr… srrr… Lampu teras berkedip, lalu terang. “Dua,” kata Sari. Kelopak matanya turun sedikit.

Harum dari Gerobak

Dari gerobak, tercium pisang hangat. Pak Joko terus mengayuh—pelan, pelan. Sebuah lampu bulat menyala di atas uap tipis. “Tiga,” gumam Sari. Kepalanya mulai miring.

Dari gerobak, tercium pisang hangat. Pak Joko terus mengayuh—pelan, pelan. Sebuah lampu bulat menyala di atas uap tipis. “Tiga,” gumam Sari. Kepalanya mulai miring.

Hampir Sampai

Langit kini biru gelap. Bulan tipis muncul di atas genteng. Di tikungan, satu lampu jalan menyala seperti kunang-kunang besar. “Empat,” ujar Sari—pelan sekali. Pak Joko tersenyum.

Langit kini biru gelap. Bulan tipis muncul di atas genteng. Di tikungan, satu lampu jalan menyala seperti kunang-kunang besar. “Empat,” ujar Sari—pelan sekali. Pak Joko tersenyum. Rumah sudah dekat.

Lampu Rumah

Di balik pagar melati, lampu rumah menyala paling hangat. “Lima,” bisik Sari. Becak berhenti. Pak Joko mengangkat Sari yang sudah tertidur, masih memeluk kelinci kainnya. Lima lamp

Di balik pagar melati, lampu rumah menyala paling hangat. “Lima,” bisik Sari. Becak berhenti. Pak Joko mengangkat Sari yang sudah tertidur, masih memeluk kelinci kainnya. Lima lampu menemani mereka pulang. Yang terakhir berkata tanpa suara: selamat malam.

Read-aloud note

Bacakan pelan, beri jeda pada gambar, lalu kecilkan suara di akhir cerita.